Langsung ke konten utama

Agama Adalah Demonstrasi




Jika engkau berdoa

Masuklah ke dalam kamarmu

Tutuplah pintu dan berdoalah… (Mat. 6:6)

 

Di negeriku agama adalah demonstrasi.

Di jalan itu orang berbondong-bondong dengan identitas bahasa tubuh religius. Pemandangan yang indah, tetapi tidak cukup artistik untuk dunia sekuler. Kepala sudah terlanjur ditutup sehingga cenderung irasional. Tubuh dibalut kain putih sehingga isi hati yang pekat tetap terselubung secara luhur. Ada tutur kata seperti credo diucapkan agak keras. Mereka seperti bersorak menyanjung seorang pemimpin. Inikah yang disebut Nietzsche sebagai perbondongan (Herde)? Kolektivitas primodial dengan gaya floating mass, mengikuti begitu saja apa yang dipercaya, siapa yang dipercaya.

Aku coba pikirkan tentang hidupku. Aku memiliki kebersamaan primodial yaitu Gereja yang pada titik tertentu memperkuat determinasi. Aku menjadi ditentukan pada waktu itu bahkan sampai hari ini. Waktu itu aku masih kecil. Aku dibawa orangtua ke gereja dan aku dibaptis di sana. Ketika imanku cukup dewasa aku menerima sakramen ekaristi dan sakramen krisma. Aku sah menjadi seorang Katolik. Apakah ini yang aku kehendaki? Atau ini suatu kenyataan terberi?

Beragama atau tidak adalah suatu pilihan bebas manusia. Manusia bebas memilih agama mana yang ia anut. Atau juga ia bebas untuk tidak memilih agama. Orang bisa hidup sebagai warga negara meskipun tidak beragama. Aku sadari hidupku bahwa sebetulnya aku tidak bebas dan kebebasanku sebagai manusia sudah dideterminasi oleh tradisi tempat di mana aku hidup. Aku hidup di lingkungan Katolik dan pada waktu aku belum paham tentang hidup aku sudah diputuskan untuk hidup seperti itu. Aku ditentukan oleh dasar komunal hidup di dalam Gereja. Aku sebetulnya tidak bebas. Beragama berarti juga tidak bebas merayakan hidup paling otentik.

Fakta hidup macam ini bisa membuat aku tenggelam sebab arah arus hidupku dinakhodai oleh perbondongan. Aku mengikuti koridor umum yang sering kali memberi batas pada kemerdekaan merayakan hidup. Aku mulai sadar bahwa beragama adalah pilihan orang yang tidak merdeka atau takut merdeka.

Aku terlempar ke dalam dunia (Geworfenheit). Faktisitas yang tak dapat aku tolak. Aku tersituasikan oleh sejarah. Faktum ontologis hidupku yang harus aku lampaui. Aku tak menolak itu. Aku berjuang untuk memaksimalkan kemungkinan untuk hidup secara otentik dalam partikularitas diriku yang khas. Aku mengikuti riwayat hidup umum, tetapi dinamikaku tetap personal. Aku berdoa dan berbuat baik bukan karena aku beragama. Aku berdoa dengan caraku sendiri. Aku berbuat baik karena hidup adalah kebaikan Tuhan.

Memiliki agama (having a religion) adalah hak privat individu. Beragama itu partikularitas. Agama tempatnya di ruang privat. Aku ingat sabda Yesus, “Jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah…” (Mat. 6:6). Tindakan beragama datang dari dinamika isolatif. Solilokui yang kudus, tetapi jelas teleologinya: yang transenden. Percakapan di dalam sunyi bersama Dia yang mahahening. Betapa dalamnya dan refleksifnya beragama itu.

Kenyataan menunjukkan bahwa agama adalah demonstrasi. Agama menjadi selebritas. Di ruang publik orang hadir dengan identitas agama. Agama dipolitisasi demi kepentingan ideologis kelompok. Ini adalah bukti bahwa orang tidak bebas dan takut menjadi bebas. Orang terikat dan hanyut di dalam perbondongan. Nietzsche menyebut ‘moralitas budak’, ‘moralitas perbondongan’. Orang hanya ikut begitu saja apa yang dikatakan oleh pemimpin. Ketaatan buta orang beragama. Inilah dosa negeri ini yang mengaku Pancasilais tetapi irasional. Tidak paham hidup sebagai warga negara dan sebagai orang beragama.

Mengapa lonceng itu nyaring berbunyi? Memanggil siapa? Mengapa harus berkumpul? Orang berbondong-bondong datang. Saling berpose di gedung megah itu. Wajah pengkhotbah juga direkam kamera. Seremoni itu dibuat dan dizinkan disiarkan secara langsung (live streaming, online). Agama jadi viral di media. Agama adalah demonstrasi dan selebritas.

Aku berada di jalan mana? Di dalam perbondongan atau di lorong sunyi individualitasku sendiri?

Aku berada di dua kenyataan itu antara kolektivitas dan individualitas. Aku belajar memaknai kemungkinan dan memaksimalkan kebebasan untuk berjuang menjadi individu otentik yang tidak tenggelam di dalam massa.

Aku mulai memberontak terhadap kenyataan hidupku. Aku ingin melampaui hidupku. Ada jiwa yang terus mencari dan menolak genealogi dirinya, bahkan genesisnya. Jiwa seorang muda pengikut Firman di jalan sunyi ziarah puisi. Aku kutip sebagian baris dari puisi “Kucing” karya sutardji Calzoum Bachri.

 

tuhan mencipta kucingku

tanpa mauku dan sekarang dia meraung

mencariMu dia lapar jangan beri daging jangan beri nasi tuhan menciptanya tanpa setahuku dan kini dia minta

tuhan sejemput saja untuk tenang sehari untuk kenyang sewaktu untuk tenang..

 

~Edy Soge Ef Er~

 (November, 2020)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ayahku Pastor, Ibuku Suster

Ayahku Pastor, Ibuku Suster             Hari ini atau besok atau lusa. Atau menunggu 10 tahun lagi. Saya harus bicara. Entah kenapa, ayah saya seorang pastor dan ibu saya seorang suster.             Hampir puluhan tahun kami tak bertemu. Saya sama sekali tidak tahu rupa orangtua saya. Saya anak yang terlampau kesepian. Terlantar di luar rumah. Terberkati di depan altar.             Saya anak yatim piatu? Saya bertanya dalam hati saat duduk sendiri di tepi dermaga. Memandang lepas pantai. Di kejauhan perahu diayunkan ombak yang damai. Laut teduh. Saya ambil secarik kertas lalu menulis puisi ini. Aku Di Mana? Aku memungut angin Di daun kering Tiada menemukan apa Tak pula jumpa siapa Aku di mana? Malam hari diterbangkan badai Pagi hari di tepi dermaga Kapal telah jauh Aku di mana? (I Januar...

MENDAMBA SAMBA

Mendamba Samba        :a.c Bukan lelucuan tanpa romansa Saat santai kau dekatkan sapa rasa Membuncah ria menari jemari menyentuh bahu Kau poles jiwaku dengan canda yang kutahu Putri samba kumendamba Rekah bibir yang jujur Tawamu membawaku ke laut senyuman kau pandai mengganggu riak jiwaku mengagumimu belum cukup mendoakanmu belum tentu sempurna terpaksa aku mengerti dirimu dengan kata hati Auciliana Costa, putri Samba kumendamba   Hewa, Juni 2016 Mendamba Samba        :a.c Bukan lelucuan tanpa romansa Saat santai kau dekatkan sapa rasa Membuncah ria menari jemari menyentuh bahu Kau poles jiwaku dengan canda yang kutahu Putri samba kumendamba Rekah bibir yang jujur Tawamu membawaku ke laut senyuman kau pandai mengganggu riak jiwaku mengagumimu belum cukup mendoakanmu belum tentu sempurna terpaksa aku mengerti dirimu dengan kata hati Auciliana Cos...

Roh Kudus dan Gereja

 Resensi Buku Oleh Edy Soge Mahasiswa STFK Ledalero, Maumere Data Buku: Judul: Mendengarkan Apa Kata Roh Kudus Kepada Gereja Penulis: P. Petrus Dori Ongen, SVD Penerbit: Ledalero Cetakan: I, Maret 2021 Tebal: xiv₊146 hlm ISBN: 978-623-6724-06-4 Gereja menghadapi tantangan yang serius di tengah situasi pandemi Covid-19. Hakikatnya sebagai communio, perkumpulan orang-orang yang percaya (communio/collegium fidelium) mengalami distorsi karena situasi lock down yang tidak memungkinkan sebuah perayaan liturgi dirayakan secara bersama. Social/physical distancing bisa membuat renggang relasi persaudaraan dan hubungan afeksional di dalam Gereja. Namun Gereja terbuka menjaga harmoni iman dengan memanfaatkan teknologi untuk menyapa dan meneguhkan umat beriman. Meski demikian, teknologi tidak pernah bisa memperkuat secara lebih intens persekutuan umat beriman.  Di tengah situasi demikian, Gereja mesti membuka diri terhadap kehadiran Roh Kudus yang terus menerus memanggil, menghibur, mem...