Langsung ke konten utama

puisi-puisi edy soge ef er


MIMPI
Ada nyanyi pada lidahmu
Kuping menangkup sendu
Dari mimpi menusuk syaraf
Dan aku bangun tiba-tiba
Berdoa dan mengemas kata
Nenuk, 20 Agustus 2016














AIR MATA MELELEH DI KACA JENDELA
Kali ini kudengar dering air mata yang berbeda
Dari dekat sekali kehilangan itu berderai
Dinding pasrah memantulkan resah yang menyala
Lantai lapang menyimpan hentakan tangis duka

“Ia kehilangan ayah!”
Terlontar lewat jendela
Jatuh dan membasahi rerumputan

Aku semakin dingin, menyaksikan
Air mata yang meleleh di kaca jendela
Embun rasa iba dari negeri seberang
                                                Nenuk, 27 Agustus 2016







KAMAR SUNYI
Aku dan sunyi memeluk erat sekali
Sampai kami tak lagi berbeda
Aku menjelma sunyi dan sunyi adalah aku.

Segera tidur sebab bola mata harus
Dimainkan mimpi. Jantung punya lagu yang harus didengar jiwa.
Maka ingatlah, tidur adalah jalan menuju sunyi”.
Kata sunyi ketika nafasku adalah dirinya.

Kamar sunyi
Aku lelap
Dibalut sunyi mahasunyi
                                                Nenuk, 30 Agustus 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ayahku Pastor, Ibuku Suster

Ayahku Pastor, Ibuku Suster             Hari ini atau besok atau lusa. Atau menunggu 10 tahun lagi. Saya harus bicara. Entah kenapa, ayah saya seorang pastor dan ibu saya seorang suster.             Hampir puluhan tahun kami tak bertemu. Saya sama sekali tidak tahu rupa orangtua saya. Saya anak yang terlampau kesepian. Terlantar di luar rumah. Terberkati di depan altar.             Saya anak yatim piatu? Saya bertanya dalam hati saat duduk sendiri di tepi dermaga. Memandang lepas pantai. Di kejauhan perahu diayunkan ombak yang damai. Laut teduh. Saya ambil secarik kertas lalu menulis puisi ini. Aku Di Mana? Aku memungut angin Di daun kering Tiada menemukan apa Tak pula jumpa siapa Aku di mana? Malam hari diterbangkan badai Pagi hari di tepi dermaga Kapal telah jauh Aku di mana? (I Januar...

MENDAMBA SAMBA

Mendamba Samba        :a.c Bukan lelucuan tanpa romansa Saat santai kau dekatkan sapa rasa Membuncah ria menari jemari menyentuh bahu Kau poles jiwaku dengan canda yang kutahu Putri samba kumendamba Rekah bibir yang jujur Tawamu membawaku ke laut senyuman kau pandai mengganggu riak jiwaku mengagumimu belum cukup mendoakanmu belum tentu sempurna terpaksa aku mengerti dirimu dengan kata hati Auciliana Costa, putri Samba kumendamba   Hewa, Juni 2016 Mendamba Samba        :a.c Bukan lelucuan tanpa romansa Saat santai kau dekatkan sapa rasa Membuncah ria menari jemari menyentuh bahu Kau poles jiwaku dengan canda yang kutahu Putri samba kumendamba Rekah bibir yang jujur Tawamu membawaku ke laut senyuman kau pandai mengganggu riak jiwaku mengagumimu belum cukup mendoakanmu belum tentu sempurna terpaksa aku mengerti dirimu dengan kata hati Auciliana Cos...

PUISI III (LEDALERO)

CECILLIA Gadis Timor berhati melati Kuncup senyum mekar   tawa Pagi hari embun berlabuh di kelopakmu Mataku dingin dadaku terjaga Engkau Cecillia, kembang di kebun Tuhan Dari balik pagar kulihat tudungmu bergerai Tudungmu, kelopak putih mahaindah Jangan sampai dihempas bayu lelaki Aku di bukit   ini begini: Mendukungmu menjadi bunga Sang Guru Ledalero, 19 Agustus 2018 DI KESUNYIAN ABAD INI Di kesunyian abad ini Aku belajar lebih tekun Untuk berdamai dengan diri Ledalero, 19 Agustus 2018 LIRIK-LIRIK BAYU Rambutmu yang tergerai Bagai ilalang padang Menyejukkan dadaku Kekasih, Rambutmu lirik-lirik bayu Menggugurkan gairah Menumbuhkan rasa kagum Ledalero, 28 Agustus 2018 DARI JAUH SEKALI Dari jauh sekali Kau lambaikan rindu Embus bayu mem...